Sabtu, 13 Juni 2009

Why the North Tower of Saint Stephen's Cathedral Remains Unfinished

Austria
Hans Puchsbaum, a journeyman mason in the Viennese Cathedral Construction Guild of Saint Stephen, was in love with Maria, the beautiful daughter of Master Builder Hans von Prachatitz, who since the year 1430 had been directing the construction of the south tower. The proud builder had selected the son of a wealthy burgher to marry his daughter and was thoroughly opposed to her affinity for Hans Puchsbaum.

"If you can finish the north tower at the same hour that I complete the south tower, then you may take Maria to wife," thundered hard-hearted Prachatitz to his journeyman. This condition was practically impossible. No one would be able to complete such a construction project in so short a time. The hopes and dreams of poor Puchsbaum disappeared. In despair he stood there and murmured to himself: "Only the devil could complete such a masterpiece. I shall leave this city, and Maria will belong to another man."
He had scarcely spoken these words when the Evil One appeared before him. "I will help you build the tower, but during the entire construction time you may not utter the name of God nor that of any of any of His saints, otherwise your soul will belong to me," was the offer made to him by the Spirit of Hell.
Plagued with a bad conscience, Hans asked himself if he should build a house of God with the help of Satan. But his love of Maria conquered all doubts, and he entered into the pact with the devil.
The townspeople of Vienna watched in amazement as the north tower scaffolding grew upward and the construction advanced rapidly. Puchsbaum himself was the most industrious of all the workers. Day and night he mixed mortar and set stones into place. The tower, growing ever higher, was decorated by the most glorious stone figures. Puchsbaum adhered rigorously to the conditions set by the devil, and it appeared less and less likely that the builder would have to surrender his soul.
Then the Evil One resorted to trickery. Assuming Maria's shape, he walked across Saint Stephen's Square with his head bowed. Hans Puchsbaum, who was standing high above on the scaffolding, recognized Maria. Forgetting his oath, he called out her name. Immediately the heavy beams broke apart and Puchsbaum fell to the ground. The tower remained unfinished. No one dared continue with the devil's work.

0 komentar:

Colin2

Jadwal Shalat

ShinyStat

Ikon YM

Pages Rank

Search Engine Optimization

Perjuangan Pohon Bambu


Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.


Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"

Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?

"Ya," jawabku.

Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.

Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.

Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.

Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."

Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.

Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"

"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi

"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."

Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP