Minggu, 07 Juni 2009

Why Opussum's Tail Is Bare

A long long time ago Opossum's tail was long and bushy.
He loved his tail and spent all day cleaning and brushing it. When anyone came to visit him, he made them listen to his latest song or poem about his tail. And when all the animals got together for a dance he demanded a special seat so everyone could admire his beautiful tail.
Wow! He was so boring!

Rabbit couldn't stand it any more. He decided to play a trick on Opossum. The next dance was booked for tomorrow night. He went to Opossum's house to invite him personally. "I must have a special seat" said Opossum "Everyone must be able to see my beautiful bushy tail".
"Of course you'll have a special seat"said Rabbit. "Everyone will see and admire your tail. No other animal has one as beautiful as yours."
Opossum swished his tail proudly, not realising Rabbit was making fun of him.
"As a special treat" said Rabbit, "Cricket the barber will comb and trim your tail tomorrow afternoon, so it will look more beautiful than ever." Opossum was very pleased and Rabbit ran off as fast as he could, because he couldn't stop laughing.
The next day Cricket came to Opossum's house. "Thank you for letting me groom your beautiful tail, Opossum. I will be able to tell my grandchildren."
"Yes, combing my tail is a great honour for your family" said vain Opossum.
Cricket took his comb and scissors and a long shiny red ribbon from his bag. "This is special ribbon" said Cricket. "When I've combed and trimmed your sumptuous tail I'll wrap it in this ribbon so it won't pick up any dust on your way to the dance".
"That's an excellent idea" said Opossum "My tail mustn't get dirty."
Cricket's gentle combing of his tail soon made Opossum sleepy.
He started to snore loudly and didn't stir until Cricket woke him. Opossum looked at the bright shiny ribbon wrapped around his tail. "All the other animals will envy my beautiful tail when I unwrap it" he said.
When he arrived at the dance, Rabbit led Opossum to his special seat. When the music started he stood up and said to the others "When I remove this ribbon, you can admire my beautiful tail as I dance. There is no other tail as beautiful as mine."
Without looking behing him, Opossum loosened the ribbon, wriggled his tail free and then vainly pranced around the dance floor in time to the music.
Rabbit put a hand over his mouth to smother his laughter. Cricket began to laugh in his little high pitched voice and all the other animals joined in. Finally vain Opossum could hear them over the music.
He looked at the other animals. They were laughing and pointing at his tail! He looked down, horrified. His long beautiful bushy tail was now as bald and scaly as a lizard's tail. Cricket had cut off every hair with his sharp scissors.
Opossum was so surprised and embarrassed he couldn't speak. All he could do was roll over on his back - which is what Opossums do today if you surprise or embarrass them.
THE END

0 komentar:

Colin2

Jadwal Shalat

ShinyStat

Ikon YM

Pages Rank

Search Engine Optimization

Perjuangan Pohon Bambu


Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.


Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"

Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?

"Ya," jawabku.

Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.

Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.

Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.

Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."

Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.

Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"

"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi

"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."

Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP